Minggu, 10 Mei 2009

Sigit Haryo Dekat Dengan Inteligen

-- Kumpulan Kasus Antasari Ashar (2)

Karena dikenal sangat dekat dengan Tyasno dan Muchdi, maka sewaktu PKB berkonflik terakhir, muncul isu bahwa SHW juga menggunakan jaringan dan permainan intelijen untuk kepentingannya “memainkan” PKB. Juga, isu bahwa SHW adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN).


Isu yang wajar, mengingat Muchdi juga merupakan tokoh intelijen, dan pernah menjabat deputi V BIN. Adapun Tyasno sempat menjadi kepala Badan Intelijen Strategis (Bais), yaitu lembaga intelijen milik pemerintah sebelum ada BIN.
Benar-tidaknya isu tersebut, sampai tulisan ini dibuat, belum diperoleh konfirmasi dari SHW maupun pihak BIN. Demikian pula kabar kedekatan SHW dengan Ketua KPK, Antasari Azhar, pun belum dapat dimintakan konfirmasi.
Isu lain, alasan kenapa SHW beberapa waktu lalu bisa masuk ke elite PKB karena dia punya “kedekatan khusus” dengan Yenny Wahid. Faktor lain, kala itu SHW juga bisa memenuhi sebagian kebutuhan ayahanda Yenny, Gus Dur.
Kebutuhan Gus Dur ini bukan hanya kebutuhan materi namun juga non materi, misalnya jaringan atau hubungan ke beberapa pihak di negara-negara tertentu seperti Singapura. Tak heran bahwa Gus Dur pun sempat ikut “jatuh hati” kepada SHW.
Saking dekatnya SHW kala itu dengan Yenny dan Gus Dur, muncul kabar bahwa dia dijagokan sebagai calon menteri tatkala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mereshuffle kabinet dan menggeser Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dari posisi menteri negara pembangunan daerah tertinggal. Ketika SBY memerlukan pengganti Ipul, Yenny pun menyodorkan nama SHW.
Namun ternyata SBY mengabaikan nama SHW, dan memilih Sekjen DPP PKB, Lukman Edy, sebagai pengganti Ipul. Tindakan SBY memicu kemarahan Yenny dan Gus Dur. Di beberapa kesempatan, Yenny menegaskan bahwa Lukman Edy bukan figur yang direkomendasikan PKB sebagai pengganti Ipul.
“Sudah jelas sekali. Sejak awal juga sudah ditegaskan oleh Gus Dur, bahwa Lukman Edi bukan wakil PKB di pemerintahan. Pak Lukman itu mewakili dirinya sendiri," tandas Yenny Wahid, putri sulung Gus Dur yang memiliki nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini kepada Persda Network (jaringan berita grup Surya), 2 April 2008 silam.
Kala itu Yenny tak pernah terbuka menyebut SHW sebagai sosok yang dijagokannya sebagai pengganti Ipul di kabinet. Meski begitu, elite PKB –-terutama di Jakarta— tahu bahwa SHW-lah yang sebenarnya digadhang-gadhang Yenny agar bisa masuk kabinet. Hanya, SHW ternyata tak pernah masuk kabinet, justru sekarang masuk sel Polda Metro Jaya… (jun/ persda network)

Read More......

Sigit Haryo Wibisono Tersangka Pembunuh Nasrusin Zulkarnain

-Kumpulan Kasus Antasari Ashar (1)

SURABAYA, SURYA--DI lingkungan dekatnya, pria kelahiran 12 November 1966 ini biasa dipanggil SHW. Itulah singkatan nama lengkap pria asal Semarang, Jawa Tengah (Jateng), tersebut : Sigit Haryo Wibisono, yang sejak beberapa bulan lalu terjun ke bisnis media massa dengan membeli Harian Merdeka. Kini nama SHW menghiasi media massa karena ditangkap dalam kasus dugaan penembakan Direktur Putra Rajawali Banjara (PRB), Nasrudin Zulkarnain.


Sebelumnya, namanya mulai mencuat ke permukaan setelah masuk dalam kepengurusan DPP PKB di bawah Ketua Umum Dewan Syura, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua Umum Dewan Tanfidz, Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Pada Juli 2007, namanya diketahui publik sebagai anggota Dewan Surya DPP PKB. Setelah itu, tatkala konflik PKB semakin meruyak –-antara kubu Cak Imin dengan kubu putrid Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid— SHW juga masuk pusaran konflik tersebut.
Diduga karena punya hubungan sangat dekat dengan Yenny, SHW pun sempat didhapuk menjadi wakil ketua caretaker DPW PKB Jatim.
Keberadaanya dalam kepengurusan PKB mengundang protes banyak orang di internal PKB. Karena, sebagai orang baru, tahu-tahu dia bisa masuk sebagai anggota dewan syuro DPP PKB. Apalagi, kala itu juga beredar isu bahwa SHW masih menjabat sebagai wakil ketua DPD Partai Golkar Jateng.
Belakangan muncul kabar bahwa SHW telah mundur dari Golkar. Kemudian, sesudah keberadaannya di PKB semakin memunculkan kontroversi, SHW pun mundur dari kepengurusan DPP PKB.
Sebagian elite PKB, khususnya yang masuk kubu Imin, menilai SHW merusak PKB sekaligus mengacaukan hubungan baik Imin dengan Gus Dur sebagai keponakan dan paman. Apalagi belakangan muncul pemecatan sejumlah pengurus pro-Imin –seperti Wakil Sekjen DPP PKB, Erman Suparman dan Hanif Dakhiri— dan berpuncak dengan pemecatan sepihak Imin dari posisi ketua umum DPP PKB.
Meski nama SHW baru menyedot perhatian publik tahun 2007-an --sesudah bergabung dengan PKB-- namun tak berarti sebelumnya pria yang berpostur agak gemuk ini “bukan apa-apa”. Sudah sejak sekitar 1999, atau kira-kira 10 tahun silam, di kalangan tertentu di Jakarta nama Sigit sangat berpengaruh.
Dia, misalnya, pernah punya kantor semacam “think tank misterius” di kawasan Jalan Kerinci, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Misterius, karena tanpa papan nama, dan dijaga beberapa pria berpenampilan sangar. Meski begitu, sejumlah nama penting sering tampak berada di sana, antara lain Mayjen Pur TNI Muchdi Purwoprandjono, mantan danjen Kopassus.
Kala itu juga santer kabar bahwa di belakang “Kelompok Kerinci” ada nama Tyasno Sudarto, yang belakangan menjadi kepala staf angkatan darat (KSAD), dan akhirnya pensiun dengan pangkat purnawirawan jenderal. Kedekatan hubungan SHW dengan Tyasno, lantaran ayah SHW pernah menjadi pejabat teras di Kodam IV Diponegoro Jateng, kala Tyasno menjadi Pangdam IV Diponegoro.
Waktu itu, di “Kelompok Kerinci” juga terdapat nama MT Arifin, akademisi asal Solo, Jateng. Ketika Tyasno bertugas di Jateng, MT Arifin sempat menjadi staf khusus atau tim ahli; dan ketika bergabung di “Kelompok Kerinci” MT Arifin didhapuk SHW sebagai seorang analis atau pengamat militer.
Sekitar tahun 2003, karena ketidakcocokan internal, MT Arifin memutuskan keluar dari “gank” SHW, dan memilih pulang ke Solo. Surya sempat beberapa kali mewawancarai MT Arifin –yang dikenal sebagai kolektor dan pakar keris setelah tak lagi bekerja untuk SHW— di Solo. Menurutnya, salah satu hal yang membuat dia ‘pecah kongsi dengan SHW’ adalah masalah keris. (dari berbagai sumber)

Read More......

Rabu, 25 Februari 2009

Capten Anwar dan ATC Indah Hebat


BATAM, TRIBUN-- Terimakasih ya Allah... Setidaknya, teriakan suara keras tersebut terdengar dari tower ATC yang dikomandoi oleh Indah Irwansyah, selaku petugas Senior Air Traffic Control Bandara Hang Nadim. Dengan ketenangan petugas ATC inilah membuat Kapten Anwar Harianto yang menerbangkan Lion Air Boing MD 90 dapat mencegah mendaratkan pesawat dalam keadaan tidak berfungsi roda depan, selamat hingga tidak memakan korban jiwa.



Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 972 dengan rute Medan-Batam dan Surabaya, mengalami pendaratan keras (hard landing) di Bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 19.15 WI, Senin (23/2). Pesawat sendiri mengakut 164 orang penumpang yang 4 diantaranya balita serta 6 orang kru pesawat termasuk pilot dan co pilot.

Ribuan pasang mata menjadi saksi kehebatan pilot Anwar mengendalikan pesawatnya. Pasalnya, pesawat yang seharusnya mendarat di Batam sekitar pukul 17.40 WIB, ini hingga lewat pukul 18.10 WIB diinformasikan menunda mendarat karena gangguan roda depan pesawat tidak berfungsi. Wal hasil, atas perintah dan arahan petugas ATC, pesawat diminta berputar-putar hingga lebih 8 kali putaran di udara Batam. Tujuan berputar untuk menghabiskan bahan bakar pesawat.

Selang 30 menit sebelum mendarat, pesawat Garuda dari Jakarta mendarat di Bandara Hang Nadim. Setelah pesawat menurunkan penumpang, barulah seluruh petugas pemadaman kebakaran, tim kesehatan dan petugas kepolisi dan Dit Pam OB langsung mengamankan sisi-sisi landasan.

Suasana kecemasan bertambah, ketika sekitar pukul 19.00 WIB, pihak ATC Bandara Hang Nadim mulai membunyinya serine tanda bahaya. Diujung landasan tepatnya di titik nol landasan sebelah Barat dua unit mobil pemadam kebakaran jenis F6 dan F8 disiagakan.

Mobil yang berisikan belasan petugas pemadamkebaran bersiaga. Sekitar pukul 19.10 WIB, terlihat dari arah Barat ujung landasan, pesawat mengeluarkan asap abu-abu di kedua sisi mesin pesawat. Selang beberapa menit, antara pukul 19.15 WIB dan 19.19 WIB roda belakang pesawat mulai menyentuh landasan di jarak 400 meter dari titik nol.

Terlihat bagian depan pesawat hingga beberapa detik meninggi, dan pada jarak landasan 1800 meter bagian depan pesawat menciun landasan, hingga bergeser 100 meter kurang lebih pesawat akhirnya terhenti, tepatnya 1990 meter dari titik nol arah barat dan 22.03 meter.

Disinilah peran dan kebaraniaan tim PMK Bandara Hang Nadim dengan dua mobilnya F6 dan F8, ikut membantu pesawat tidak terbakar. Pasalnya, sejak jarak 400 meter roda pesawat menyetuh landasan, dua unit mobil ini dari sisi samping kiri dan kanan mengikuti lanju pesawat. Ketika bagian depan pesawat mulai menyentuh landasan, dua mobil tersebut menyemprotkan racun api hingga pesawat berhenti.

"Waktu bagian depat pesawat menyentuh landasan, langsung kita semprotkan racun api. Sehingga api tidak terlihat. Ini adalah teknik yang belum pernah kita lakukan secara nyata, tetapi kita telah sering latihan. Akhirnya teknik ini berhasil,"ujar seorang petugas PMK dari mobil F6.

Menurut petugas PMK lainnya, beberapa detik usai pesawat berhenti, barulah kru pesawat membuka pintu, dan busa penyelamat terbuka. Satu persatu penumpang turun. Ada yang langsung sujud sukur, dan ada juga yang berpelukan. Namun, semua penumpang dinaikan ke bus, dalam keadaan tidak percaya dengan kejadian tersebut.

" Syukur aku selamat pak,,"ujar petugas keamanan mengambarkan suasana hati seorang penumpang yang lemas dan di gotong oleh petugas medis ke atas bus.

Evakuasi penumpang sendiri berlangsung lebih 20-30 menit, dan setelah seluruh penumpang turun, barulah kru dan kapten pesawat di evakuasi.

Menurut seorang petugas Bandara lainnyak, ketika turun pilot sempat terpana didepan pintu dan selanjutnya berseluncur turun. Pilot langsung mendapat jabatan tangan dari sejumlah kru dan tim penyelamat.

"Hebat sekali pilot itu, walau panik tapi terlihat ketenangannya,"ujar seorang petugas PBK ke Tribun. (ded)

Read More......

Rabu, 10 Desember 2008

Pukulan Buat Kapolda Kalbar

PONTIANAK, TRIBUN - Ketua Presidium Indonesian Police Watch, Neta S Pane mengatakan, penangkapan 8.300 batang kayu oleh anggota Korem 121/ABW, merupakan pukulan buat Kapolda Kalimantan Barat, Brigjen (Pol) R Nata Kesuma.


"Masak yang menangkap kayu TNI AD, malah kepolisian memberi pengawalan. Seharusnya mereka yang menangkapnya. Ini harus diberi sanksi. Apalagi, sebelumnya sudah dilaporkan ke Polda adanya aktivitas ini," kata Neta kepada Tribun, Rabu (10/12).

Peristiwa tersebut membuktikan, katanya, kepolisian kurang serius memberantas pembalakan liar. Sedangkan ini merupakan perintah langsung Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Seharusnya, saat pengawalan anggota Samapta Polda Kal Bar yang mengawal rakit kayu itu mengecek validitasnya, sesuai tidak antara dokumen dengan kayu dikawal. Jangan terburu-buru mengiyakan.

"Bisa saja, dokumen diterbitkan oleh Dinas Kehutanan telah dipalsukan atau tidak lagi sesuai kayu yang dikawal. Kan, harus dicek secara pasti dulu, baru dipercaya kayu legal," tegasnya.

Pengawalan kayu silakan saja, namun mereka harus mengecek kembali benar atau tidak dokumen kayu dengan jumlah sebenarnya, termasuk jenis-jenisnya. Persoalannya, kembali ke aparat kepolisian, mau tidak mengeceknya secara serius, hingga ke bagian bawah kayu.

Tak hanya di lapis paling atas, justru kayu-kayu di bagian bawah, biasanya tidak dimasukkan dalam manifes dokumen kayu. Modus selama ini digunakan pembalak liar, katanya, kayu-kayu berat dan dalam bentuk log ukuran diameter besar merupakan jenis kayu-kayu bernilai ekonomis tinggi.

Di atasnya, ditutupi dengan kayu harga murah sebagai penyamaran pengangkutan kayu ke pabrik pengolahan.

"ICW mendesak Divisi Propam Mabes Polri harus turun menyelidiki kasus ini. Kenapa pengawalan diberikan oleh Samapta tanpa mengecek kebenaran kayunya," pinta Neta.

Menurut informasi, kayu yang diangkut ke PT Wana Banua Agung (WBA) telah dua kali dengan pengawalan tiga anggota Samapta Polda Kalbar. Kabid Humas Polda Kal Bar, AKBP Suhadi SW membenarkan adanya surat permintaan dari KUD Utama kepada Polda guna mengawal rakit kayu hingga ke PT Wana Banua Agung.

"Kita diminta secara resmi oleh KUD mengawal kayu itu, bukan membekingi. Jadi bukan oknum yang datang ke sana. Alasan pengawalan, dokumen mereka lengkap dan menghindari masuknya kayu ilegal saat pengangkutan, " kata AKBP Suhadi.

Pengawalan ini mulai berlaku setelah surat-menyurat dan dikantonginya dokumen kayu, serta pembayaran PSDH/DR oleh mereka. Sebelumnya, polisi pernah memeriksa ini, namun menurut keterangan saksi ahli kehutanan tidak terbukti adanya dugaan kayu ilegal. (Fakhrurrodzi)


Read More......

Selasa, 09 Desember 2008

Kapolri Siapkan Rambu Anti Pungli

Jakarta,Tribun--Menindaklanjuti warning Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perihal tindakan korupsi di tubuh Polri, Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memastikan, akan terus membenahi tubuh Polri yang rawan tindakan korupsi, termasuk pungutan liar (pungli).


"Ini sudah diwarning Presiden. Polri mengantisipasi dan menyapkan rambu-rambu agar tidak terjadi pelanggaran hukum di polri. Kita sedang berproses untuk berbenah," ujar Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri usai mengkuti peringatan hari anti korupsi se-dunia di Monuman Nasional (Monas), Jakarta, Selasa (9/12).

Kapolri menegaskan, pembenahan akan dilakukan dari internal Polri yang menjadi perhatian serius pemerintah, dan masyarakat, terutama pelayanan publik maupun pelayanan terhadap anggota.

"Berkaitan ke dalam pasti. Kita sedang berjalan dan berproses. Misalkan, dalam rekruitmen, mutasi dan lain-lain," ungkapnya.

Selain membenahi internal Polri, Kapolri juga menyatakan, Polri menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kejaksaan Agung untuk mengikis pungli di tubuh Polri.

"Kita semua, KPK, Kejaksaan Agung dan Polri punya satu komitemen yang sama untuk membersihakn dan menegakkan hukum supaya bebas dari kasus korupsi," tandasnya. (Persda Network/ade)

Read More......

Minggu, 07 Desember 2008

Distributor Ektasi Diancam Hukuman Mati




-- 43.606 pil Ektasi dari 4 Tersangka
-- Dikemas Dalam Makanan Kaleng

BATAM, TRIBUN--
Pernyataan Kapolda Kepri Brigjen Pol Indradi Thanos yang menjelaskan kalau peredaran pil ektasi yang makin marak di Kota Batam berasal dari negeri Malaysia, akhirnya mulai terungkap juga. Berkat upaya pelacakan hingga pengintaian Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepri selama hampir 2 bulan, akhirnya terungkap jaringan distributor pil ektasi terbesar di Kota Batam.



" Terimakasih kita ucapkan kepada seluruh jajaran Ditnarkoba Polda Kepri yang bekerja siang malam untuk mengungkap keberadaan tempat distribusi pil ektasi terbesar di Kota Batam. Segi jumlah barang bukti yang diamankan cukup fantastis yaitu 43.606 butir atau senilai dengan Rp 6,5 miliar. Menariknya, kecurigaan kita kalau pil ini berasal dari Malaysia, akhirnya terjawab sudah, karena pengakuan awal para tersangka barang ini didapat dan dipasok dari negeri Jiran sana,"kata Indradi Thanos yang didampingi Wakapolda Kepri Kombes Pol Syafrizal Ahiar dan Kasat I Ditres Narkoba Polda Kepri, Kompol Putut Wicaksono, Senin (1/12).

Dijelaskan Indradi Thanos, dengan terungkapnya jaringan ektasi internasional ini, maka jajaran Polda Kepri akan berkoordinasi dengan Polisi di Raja Malaysia (PDRM). Terutama, mengungkap keberadaan lokasi awal tempat diraciknya ribuan pil ektasi ini.

"Wakapolda dan Kasat Narkoba saya minta berangkat secepatnya ke Malaysia. Kita ingin, data dan keterangan awal tersangka ini segera diungkap. Kita tahu, kepolisian Malaysia sana juga menunggu informasi ini,"ujar Kapalda.

Secara singkat, Kapolda menjelaskan kalau tersangka mendapatkan ribuan pil ektasi dari pihak kurir, yang akan memasok ketika tersangka Distributor meminta. Pengiriman menggunakan fasilitas perahu tradisional yang sengaja berlayar malam.

"Awalnya tersangka mendatangi Malaysia untuk mendapatkan pasokan ektasi. Setelah penjualan lancar dan tidak ada kendala, akhirnya jaringan Malaysia mengirim sendiri pil ektasi melalui jasa kurir. Dari tangan distributor di Batam inilah, barang ini dibagi-bagi ke sejumlah pengecer baik untuk pengecer di Batam hingga ke luar Batam,"tambah Kapolda.

Untuk membuktikan dugaan awalnya, maka seluruh barang bukti, Kapolda mengintruksi jajaran untuk mengirimkan contoh barang ke Laboratorium Mabes Polri, serta membawa sejumlah contoh barang bukti ke negara Malaysia. Bentuk rasa terima kasihnya ini, Kapolda sebelum meninggalkan ruang konprensi press menyalami 5 orang anggota Ditres Narkoba Polda, dan berjanji akan memberikan penghargaan nantinya.

Produksi Ektasi 1992

Dilanjutkan oleh Wakapolda Kepri, Syafrizal menjelaskan tentang alur dan penyebaran barang bukti ini masih dalam pengembangan. Sedangkan, melihat jumlah dan barang bukti maka tersangka dapat dikenakan pasal berlapis, tersangka diduga kuat telah melanggar tindak pidana psikotoropika, pasal 59 ayat 1 huruf C dan E ayat 2 Jo Pasal 62 Pasal 71 UU RI No 05 tahun 1997, tentang psikotropika.

"Ancaman hukuman bagi para tersangka ini hukuman mati. Alasan mereka merupakan jaringan Internasional dan yang kita duga telah lama beroperasi, dan jelas telah dari operasi mereka ini memakan korban,"ujar Kombes Syafrizal.

Syafrial mengungkapkan dari 43 ribu pil ektasi yang berhasil diungkap, ada jenis pil ektasi yang telah lama tidak beredar di Indonesia, berhasil diamankan dalam penyergapan tersebut.

"Ada ribu pil ektasi ukuran kecil, dimana pil ektasi jenis ini pertama kali diungkap tahun 1992. Walau kecil, pil ini lebih baik dan lebih padat dari pil yang diracik secara lokal. Ini membuktikan, kalau jaringan Malaysia menjadi pihak yang kita duga berasal barang haram ini,"jelas Wakapolda lagi.

Dalam kasus ini, penyidik masih mengembangkan kemana saja pil ektasi ini disebar. Terutama penyebaran di Batam dan keluar Batam.

12 jam Menghitung Barang Bukti

Sementara itu, Kompol Putut Wicaksono menjelaskan upaya pengungkapan kasus ini berawal dari penyelidikan yang berlangsung sejak 2 bulan lamanya. Penggrbekan polisi, Minggu (30/11) dinihari ke satu rumah di Perum Taman Putri Indah Blok A nomor 36 Kecematan Batam Kota.

Polisi berhasil diamankan tersangka CT alias AT, serta kaki tanganya ED alias AR selaku pengecer untuk daerah Kota Pekanbaru Riau dan DV K alias DY untuk pengecer daerah Selat Panjang Riau. Dari tiga tersangka ini akhirnya terungka tersangka KR alias AH (warga Batam ) adalah Distributor utama wilayah Sumatera. Tersangka yang dikenal AH ini diamankan dari rumah sendiri Perum Orchid Park Blok C No 47 Kecamatan Batam Kota, Kota Batam.

" AH menerima ribuan ektasi dari tersangka AC yang bertugas sebagai kurir (warga Malaysia (DPO)). Sedangkan AC memiliki bos lainnya, yang diduga sebagai Big Bos berinitial Mr O,"ungkap Putut.

Banyaknya barang bukti yang berhasil diamankan, tersangka bermain cantik sehingga mengelabui petugas. Ribuan pil ektasi diamankan dalam makanan kemasan kaleng, seperti kopi, kacang dan aneka makanan ringan lainnya. Jika petugas tidak membuka satu-persatu makanan, maka jumlah ektasi tidak akan sampai 43 ribu butir.

"Mereka sangat pintar, membungkus ulang aneka makanan ringan yang campur pil ektasi. Jika petugas tidak teliti maka barang ini dengan mudah lewat, baik pelabuhan resmi maupun pelabuhan barang,"tutur Putut.

Sedangkan untuk memastikan jumlah barang bukti mencapai 43.606 butir, penyidik membutuhkan waktu 12 jam menghitungnya. " Kita menghitung hampir 12 jam seluruh barang bukti ini,"akhir Putut dengan senyuman. (ded)

Read More......

Selasa, 25 November 2008

Korban Antikomunis Mendekati 500 Ribu Jiwa

Amerika Serikat 40 Tahun Sangkal Terlibat
* Plot Adam Malik Ketua Sidang Umum PBB
JAKARTA, TRIBUN--
Runtuhnya rezim Presiden Soekarno karena keterlibatan trio Soeharto, Adam Malik, dan Sultan Hemengkubuwono IX. Hal ini dimuat dalam buku Membongkar Kegagalan CIA terjemahan dari Legacy of Ashes, the History of CIA karangan wartawan The New York Times, Tim Weiner.



Salah satunya dengan merekrut Menteri Perdagangan/ Diplomat Adam Malik menjadi agen CIA. Adam Malik dan Presiden Soekarno, saat itu, tahun 1964, terlibat perseteruan sengit. Setelah resmi direkrut perwira CIA Clyde McAvoy, Adam Malik semakin sering bertemu dengan pihak CIA dan kedutaan besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Bersama Mayjen Soeharto, kedua belah pihak sepakat membuat perlawanan membendung laju pertumbuhan Partai Komunis Indonesia melalui gerakan politik yang disebut Kap-Gestapu.

Setelah terjalin kesepakatan, dan pertemuan antara Soeharto, Adam Malik, dan Sultan HB IX dengan duta besar Amerika serikat Marshall Green, pihak Amerika menyalurkan bantuan berupa pengedropan obtan-obatan senilai 500 ribu dolar AS kepada pihak angkatan darat untuk dijual guna mendapat dana tunai.

Dubes Green sendiri memerintahkan memberikan 14 alat komunikasi walkie-talkie yang biasa digunakan untuk komunikasi darurat di kedutaan kepada pihak Soeharto untuk media komunikasi sesama petinggi angkatan darat. Kemudian, Adam Malik mendapat uang tunai sebesar 10 ribu dolar atau setara sektiar 50 juta untuk membiayai kegiatan gerakan Kap-Gestapu.

"Kelompok aksi yang beranggotakan warga sipil tetapi dibentuk oleh militer ini masih memikul kesulitan yang diakibatkan oleh semua upaya represif yang sedang berlangsung. "Kesediaan kita untuk membantu dia dengan cara ini, menurut saya, akan membuat Malik berpikir bahwa kita setuju dengan peran yang dimainkan dalam semua kegiatan anti-PKI, dan akan memajukan hubungan kerja sama yang baik antara dia dan angkatan darat," kata Marshall Green (halaman 332).

Green menekankan, "Kemungkinan terdeteksinya atau terungkapnya dukungan kita dalam hal ini sangatlah kecil, sebagaimana setiap operasi "tas hitam" yang telah ktia lakukan." Sebuah gelombang besar kerusuhan mulai meningkat di Indonesia. Jenderal Soeharto dan gerakan Kap- Gestapu telah membunuh begitu banyak orang.

Duta Besar Green kemudian memberitahu Wakil Presiden Hubert H. Humphrey dalam sebuah pembicaraan di kantor wakil presiden di Gedung Capitol bawah "300.000 sampai 400.000 orang telah dibantai" dalam "sebuah pertumpahan darah besar-besaran. " Wakil Presiden menyebutkan bahwa dia telah mengenal Adam malik selama bertahun-tahun , dan Duta Besar memujinya sebagai "salah satu orang terpintar yang pernah dia temui."

Setelah Adam Malik dilantik sebagai Menteri Luar Negeri, dia diundang berncing-bincang selama 20 menit dengan Lyndon Baines Johnson, Presiden Amerika Serikat tahun 1963-1969 di Gedung Oval. Mereka menghabiskan pembicaraan tentang Vietnam. Pada akhir pembicaraan, Lyndon mengatakan dia punya perhatian amat besar tentang perkembangan Indonesia, dan mengirimkan salam hangat buat Soeharto.

Dengan dukungan Amerikan Serikat, Adam malik kemudian terpilih menjadi Ketua Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Duta Besar Green mengoreksi perkiraan angka kematian di Indonesia dalam sebuah rapat rahasia Komite Hubungan Luar Negeri Senat. "Saya kira, kita harus menaikkan taksiran itu brangkali mendekati angka 500.000," ujarnya dalam sebuah kesaksian yang dinyatakan deklasifikasi pada bulan maret 2007.

"Tentu saja, tidak ada orang yang tahu pasti. Kita hanya bisa menilainya berdasarkan keadaan semua desa yang telah menjdai sepi."

Lalu Ketua Komite Senator J William Fulbright dari Arkansas mengajukan pertanyaan berikut dengan sungguh-sungguh dan langsung. "Kita terlibat dalam kudeta itu?" tanyanya.
"Tidak, Pak," jawab Duta Besar Green.
"Apakah kita terlibat dalam percobaan kudeta sebelumnya?" senator kembali bertanya.
"Tidak," ujar Duta Bear. "Saya kira tidak."
"CIA tidak punya peran apa-apa dalam kudeta itu?" Fulbright bertanya lagi.
"Maksud Anda tahun 1958?" ujar Green. Dinas rahasia telah menjalankan kudeta tersebut, tentu saja, dari awal yang buruk dan ceroboh sampai akhir yang pahit.
"Saya khawatir, saya tidak bisa menjawab," ujar Duta Besar. "Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi."

Tim Weiner meneruskan, setelah Soeharto berkuasa, lebih satu juta orang tahanan politik telah dipenjarakan. Beberapa tahanan tetap berda di dalam pernajara selma beberapa dasa warsa, beberapa lagi meninggal dalam tahanan.

Amerika Serikat telah berusaha menyangkal selama 40 thaun dengan menyatakan tidak punya hubungan apa-apa dengan pembantaian yang dilaksanakan atas nama antikomunisme di Indonesia. "Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu," ujar Marshal Green. "Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai." (Persda Network/domuara damianus ambarita)

Read More......